Makam Kyai dan Nyai Jengger

Tidak ada yang tahu persis tahun berapa Mbah Jengger atau KRT Sastro Wilogo wafat, tetapi peninggalan berupa makam dipercaya oleh masyarakat bahwa itu adalah makam Ki Jengger dan Nyi Jengger. Makam tersebut berada di kebun keluarga Radimin, sedangkan pengikutnya yaitu Suto Menggolo dan Kolo Srenggi di makamkan di gundukan tanah persawahan. Pada tahun 1940 oleh Lurah Tumut Marto Puri, makam Ki dan Nyai Jengger dibangunkan cungkup serta memindahkan dua makam pengikutnya dijadikan satu komplek. Kemudian pada tahun 1956 oleh Wongso Danu direhap atapnya dan diganti nisannya dengan menggunakan kayu jati glondongan untuk makam Ki Jengger dan Nyai Jengger.

Dalam memindahkan makam pengikutnya (Suto Menggolo dan Kolo Srenggi) tidaklah mudah karena banyak peristiwa yang terjadi, diantaranya adanya angin besar di sekitar makam, ada ular besar yang menunggu makam tersebut. Tetapi setelah dilakukan ritual dan mohon ijin kepada Mbah Jengger akhirnya kedua makam pengikutnya bisa dipindahkan.

Kini setiap bulan Ruwah, di halaman atau depan cungkup makam tersebut digunakan untuk nyadran. Mendoakan Mbah Jengger dan pengikutnya, serta keselamatan warga setempat. Selain itu juga sebagai wujud rasa syukur masyarakat setempat atas keselamatan dan atas rezeki yang diterima diwujudkan dengan mengeluarkan sodakoh.