Padukuhan Menulis : Cikal Bakal dari Mbah Jengger
Padukuhan Menulis berada di wilayah Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan Kabupaten Sleman. Secara geografis Padukuhan Menulis berbatasan dengan Padukuhan Kemusuk, Kalurahan Argomulyo Kapanewon Sedayu Kabupaten Bantul yang merupakan Desa kelahiran Presiden RI ke dua Soeharto.
Padukuhan Menulis awalnya berada di bekas Kalurahan Tumut, namun berdasarkan Maklumat Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1946 mengenai Pemerintahan Kalurahan, maka Kalurahan Tumut dan dua bekas Kalurahan lain yaitu Kalurahan Semingin, Kalurahan Nglahar digabung menjadi Kalurahan Sumbersari.
Dukuh Menulis Hayyu Nur Ikhsan Ramadhan (24) mengatakan “ Saya tidak tahu tentang asal-usul nama padukuhan, saya tahu sudah bernama Menulis”. Karena memang Dukuh Menulis ini masih sangat muda dan menjabat sebagai dukuh baru 3 (tiga) tahun.
Buku sejarah tentang asal-usul berdirinya Padukuhan Menulis juga tidak ada. Maka beberapa sumber yang bisa mengungkap misteri asal- usul Padukuhan Menulis hanya dari mulut ke mulut. Yang pada umumnya mereka sudah merupakan generasi ke lima dari pendiri padukuhan tersebut.
KRT. Sastro Wilogo Punggawa Kerajaan Mataram.
Menurut Radimin (85) tokoh masyarakat, tahun 1750 pada zaman pemerintahan Mataram terjadi gejolak karena kekecewaan terhadap imperialis Belanda. Akibat dari rasa kecewa dan tidak sejalan dengan kebijakan Kerajaan Mataram, banyak ‘punggawa kerajaan’ yang meninggalkan Mataram, untuk mencari ketentraman jiwa dan kedamaian hati.
KRT. Sastro Wilogo bersama KRT. Puspo Negoro meninggalkan Kerajaan Mataram ke arah barat. Sesampainya di Godean KRT. Puspo Negoro melanjutkan perjalanan ke arah utara sedangkan KRT. Sastro Wilogo dan dua pengikutnya ke arah Selatan. KRT. Puspo Negoro akhirnya berhenti di sebuah gunung kecil yang sekarang bernama Padukuhan Beran Kalurahan Margodadi Kapanewon Seyegan sampai wafatnya. Tempat tersebut dijadikan nama makam KRT. Puspo Negoro, sedangkan KRT. Sastro Wilogo yang ke arah selatan berhenti di sebuah gerumbul. KRT. Sastro Wilogo bersama pengikutnya yaitu Suto Menggolo dan Kolo Srenggi di tempat itu bertapa, untuk mencari kedamain hati dan ketentraman jiwa. Setelah bertahun-tahun menempati tempat tersebut akhirnya banyak warga yang ikut bertempat tinggal daerah tersebut. Dari waktu ke waktu semakin banyak pengikutnya, dan ingin berguru untuk menjadi murid KRT. Sastro Wilogo. Untuk menghilangkan jejak agar tidak diketahui oleh Belanda dan Pemerintah Kerajaan Mataram, akhirnya KRT. Sastro Wilogo berganti nama menjadi Kyai Jengger atau Mbah Jengger.
Mbah Jengger di tempat tersebut memberikan pelajaran ke warga untuk belajar tata cara bertani, karena di wilayah tersebut masih terbentang luas daerah pertanian. Selain tata cara bertani juga di ajarkan ‘olah kanuragan’ untuk melawan penjajahan Belanda. Belajar agama juga dilakukan, serta membaca dan menulis tidak ketinggalan.
Tokoh masyarakat yang lain E. Marijo (75) yang pernah menemui juru kunci makam KRT. Puspo Negoro di Beran Margodadi Seyegan membenarkan cerita tersebut. “Memang benar ada kaitannya antara KRT Puspo Negoro dan KRT Sastro Wilogo” tuturnya.
Makam Kyai dan Nyai Jengger.
Tidak ada yang tahu persis tahun berapa Mbah Jengger atau KRT Sastro Wilogo wafat, tetapi peninggalan berupa makam dipercaya oleh masyarakat bahwa itu adalah makam Ki Jengger dan Nyi Jengger. Makam tersebut berada di kebun keluarga Radimin, sedangkan pengikutnya yaitu Suto Menggolo dan Kolo Srenggi di makamkan di gundukan tanah persawahan. Pada tahun 1940 oleh Lurah Tumut Marto Puri, makam Ki dan Nyai Jengger dibangunkan cungkup serta memindahkan dua makam pengikutnya dijadikan satu komplek. Kemudian pada tahun 1956 oleh Wongso Danu direhap atapnya dan diganti nisannya dengan menggunakan kayu jati glondongan untuk makam Ki Jengger dan Nyai Jengger.
Dalam memindahkan makam pengikutnya (Suto Menggolo dan Kolo Srenggi) tidaklah mudah karena banyak peristiwa yang terjadi, diantaranya adanya angin besar di sekitar makam, ada ular besar yang menunggu makam tersebut. Tetapi setelah dilakukan ritual dan mohon ijin kepada Mbah Jengger akhirnya kedua makam pengikutnya bisa dipindahkan.
Kini setiap bulan Ruwah, di halaman atau depan cungkup makam tersebut digunakan untuk nyadran. Mendoakan Mbah Jengger dan pengikutnya, serta keselamatan warga setempat. Selain itu juga sebagai wujud rasa syukur masyarakat setempat atas keselamatan dan atas rezeki yang diterima diwujudkan dengan mengeluarkan sodakoh.
Sendang
Tidak jauh dari makam Mbah Jengger kira-kira berjarak 60 meter terdapat sendang, di bawah pohon bulu yang cukup besar dan terletak di bantaran sungai kecil. Sendang tersebut dahulunya sering digunakan untuk mandi MbahJengger beserta pengikutnya. Di tempat tersebut dahulunya ada arca Budha tinggi 80 cm, tetapi sekarang sudah tidak ada lagi entah diambil siapa tidak ada yang tahu, tambah Budiman (70) yang juga sebagai narasumber.
Menurut cerita Radimin bahwa sendang tersebut oleh Kariyo Kromo dibangun candi, sumber air dari sebelah Timur cukup deras dikhawatirkan akan terjadi banjir dibantaran sungai. Maka oleh Hadi Suraji sumber mata air tersebut disumbat menggunakan ‘dandang’ (alat untuk menanak nasi), hingga saat ini sumber air cukup kecil.
Pada tahun 2000 an sendang tersebut diteliti oleh dinas terkait, untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar. Namun berdasarkan penelitian bahwa sumber air tersebut belum bisa memenuhi syarat, dikarenakan debit air yang kurang.
Air sendang tersebut sekarang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari Masjid Al-Kautsar dan Pondok Pesantren Khairul Umah yang berada satu komplek.
Peristiwa Mistis.
Menurut Budiman (70) tokoh masyarakat, beliau pernah mendengar cerita dari ayahnya Almarhum Mangun Rejo, setiap malam tanggal 1 (satu) Sura melihat seekor harimau yang keluar dari makam Mbah Jengger. Peristiwa tersebut dilihat sampai empat kali dan tidak dilihat oleh orang lain. Harimau itu keluar dari makam menyusuri sungai melalui sebelah kiri, sesampai di Watu Blorok berhenti, kemudian kembali lagi menyusuri sungai tersebut juga melewati sebelah kiri. Menurut cerita bahwa harimau tersebut adalah peliharaan Mbah Jengger yang setiap malam 1 Syura dimandikan di kubangan, dan setelah mandi bertengger di atas Watu Blorok.
Watu Blorok merupakan batu yang berwarna blorok berada di sebelah barat makam Mbah Jengger, berjarak kira-kira 200 meter. Menurut E Sumarjo (75) keberadaan Watu Blorok tersebut dulunya berada di kubangan air yang merupakan tempat ngguyang (memandikan) kerbau. Ditempat itu terdapat batu yang berwarna blorok, karena cuma terlihat sepertiga bagian atas saja. Tempat tersebut sekarang sudah diurug, dan menjadi sebuah bangunan tetapi Watu Blorok masih tetap kelihatan.
M Irvan pemilik sawah bekas makam pengikut Mbah Jengger menuturkan “ Saya pernah melihat ular cukup besar dan buntung di sawah tersebut” Menurut cerita bahwa ular buntung tersebut adalah merupakan potongan keris yang dimiliki oleh Suto Menggolo.
Peristiwa lain yang pernah terjadi, dari rumah Mbah Sumitro pukul 03.00 WIB terdengar suara orang menangis, maka didatangi 12 orang tetangga padukuhan dengan membawa obor blarak, yang dikira Mbah Sumitro ada musibah, ternyata tidak terjadi apa-apa. Bahkan tetangga terdekat, tidak mendengar apa-apa.
Asal-usul nama Padukuhan Menulis.
Selama hidupnya KRT. Sastro Wilogo beserta istri menyamar dengan nama Mbah Jengger, ditempat tersebut yang dulunya berupa gerumbul dan banyak pepohonan. Semakin lama semakin banyak pengikutnya dan menjadi ramai, tanahnya ‘gemah ripah loh jinawi’ untuk kehidupan bermasyarakat. Mbah Jengger di tempat itu memberikan berbagai macam ilmu, termasuk mengajar membaca dan menulis. Karena tempat itu belum memiliki nama maka pengikut Mbah Jengger mengusulkan tempat tersebut diberi nama yakni Menulis, dan disetujui oleh Mbah Jengger. Sejak itulah tempat itu disebut Padukuhan Menulis, hingga saat ini.
Bregada Sastro Wilogo
Untuk mengenang cikal bakal berdirinya Padukuhan Menulis yaitu KRT. Sastro Wilogo (Mbah Jengger), Bregada dari Padukuhan Menulis diberi nama Bregada Sastro Wilogo. Setiap even yang diikuti sebelum mengikuti lomba pengurus selalu melakukan ziarah ke makam Mbah Jengger atau KRT. Sastro Wilogo, untuk memohon restu dan ijin. Walau sampai saat ini setiap even yang diikuti baru mendapakan juara 3 (tiga) di Tingkat Kabupaten Sleman, kata E Marijo yang merupakan ketua Bregada.
Padukuhan Menulis yang berada di Wilayah Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan Kabupaten Sleman dahulunya berupa gerumbul yang banyak pepohonan, dan persawahan. Sekarang Padukuhan Menulis menjadi Padukuhan yang maju, dengan berbagai macam aktifitas warga dengan usaha yang beraneka ragam, memiliki fasilitas olah raga dan budaya. Warga Menulis tetap menjujung tinggi keberadaan Makam Mbah Jengger.
Pembuat Artikel: Sugiyanto
Tenaga Ahli Penulis: Sutopo Sugihartono
Foto: Sugiyanto