KLISAT – SUMBERSARI : Bemula dari Ditutupnya Sumber Air
Padukuhan Klisat merupakan salah satu Padukuhan di Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman. Padukuhan ini di bawah kepemimpinan Dukuh Purnomo, dalam satu Padukuhan terbagi menjadi dua wilayah yaitu Patran dan Klisat sendiri.
Pada zaman Kolonial Belanda Padukuhan Klisat berada di Wilayah Kalurahan Semingin, namun berdasarkan Maklumat Pemerintah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 5 Tahun 1948 Tentang Perubahan Daerah Kalurahan, maka Kalurahan Semingin, Kalurahan Nglahar dan Kalurahan Tumut digabung menjadi Kalurahan Sumbersari.
Asal-Usul Nama Padukuhan Klisat
Kepala Dukuh Klisat Purnomo pernah mendapatkan cerita dari sesepuh terdahulu. Menurut Kepala Dukuh Purnamo, tentang asal-usul Klisat merupakan akronim dari Kali Asat ( sungai yang kering ). Dari kata kali asat yang artinya kali kering inilah kemudian membentuk kata klisat.
Pada zaman Kerajaan Demak Bintoro yang berkuasa pada tahun 1475-1518 ada salah satu pengikut Raden Patah yang bernama Kiai Patra menetap di tempat tersebut. Selama tinggal di situ beliau megajarkan ilmu kanuragan, ilmu agama, dan ilmu- ilmu yang lainnya. Dari hari ke hari, dari bulan ke bulan dan dari tahun ke tahun semakin banyak pengikutnya.
Pada saat itu tempat tersebut belum mempunyai nama kampung atau padukuhan tetapi di bagian timur masih berupa belantara atau gerumbul yang banyak ditumbuhi pepohonan, Sedangkan di bagian Barat merupakan genangan air yang cukup melimpah. Apalagi di bagian selatan tempat tersebut di- buat bendungan sehingga tempat tersebut terlihat seperti sungai yang yang cukup besar.
Di bagian Timur yang berupa belantara tersebut terdapat sebuah cegukan (kubangan) seperti sendang yang airnya melimpah ruah yang tidak pernah surut walau di musim kemarau panjang. Sayangnya bekas sumber air tersebut sekarang sudah berubah menjadi rumpun bambu yang lebat yang tidak menunjukkan bekas sungai kering atau kali asat. Dari kubangan tersebut air selalu mengalir ke arah barat sehingga semakin hari di sebelah barat kubangan tersebut air semakin melimpah dan meluas.
Mata Air Yang Ditutup
Melihat hal tersebut Kiai Patra menyampaikan pesan kepada para pengikut dan warga setempat ”Kalau sumber air itu tidak ditutup (sumpet Bahasa Jawa ), maka nantinya tempat ini akan tenggelam tidak bisa ditempati.” Para pengikut dan warga setempatpun menjawab “Sebaiknya ya ditutup saja sumber airnya, tapi apa mampu kalau cuma menggunakan batu atau tanah.” Kiai Patra pun menjawab. “Dengan seijin Allah insyaAllah saya bisa menutupnya.” Dengan memohon kepada Allah dan menggunakan ilmu kanuragan yang dimilikinya maka sumber air tersebut disumbat menggunakan serabut aren ( duk bahasa Jawanya ) dan batu, seketika itu juga sumber air tersebut mati atau mampet. Dengan mampetnya mata air tersebut warga merasa gembira, dan melakukan sujud syukur kepada Tuhan.
Menjadi Kali Kering
Setelah bendungan dihilangkan maka tempat sebelah barat airnya menjadi surut dan lama-kelamaan menjadi kering dan diberi nama Kalisat, yang merupakan akronim dari kali asat dan akhirnya menjadi Klisat. Sedangkan yang disebelah Timur yang semula merupakan sumber air sesuci sebelum berdoa (Jawa: patirtan) diberi nama Patran. Dikarenakan sebelumnya di bagian selatan ada bendungan yang membuat sumbang maka disebelah selatan Padukuhan Klisat diberi nama Sumbangan, yang sekarang menjadi Padukuhan Sombangan.
Disaat bendungan tersebut dihancurkan terjadi banjir besar seperti lahar dan penduduknya bilang lahar-lahar, maka di sebelah selatannya diberi nama Nglahar (sekarang Padukuhan Nglahar). Aliran sungai yang seperti lahar tersebut membawa pasir dan menjadikan gundukan pasir di bagian selatan maka tempat tersebut diberi nama Gesikan (sekarang nama Padukuhan Gesikan). Dikarenakan dibagian selatannya lagi dibuat bendungan sehingga menjadi sebuah palung (Jawa: kedung) yang banyak menenggelamkan pepohonan yang besar maka diberi nama Kedunggalih sampai sekarang.
Keterangan Narasumber
Menurut Iriyanto (54) orang pertama yang tinggal di Klisat adalah Mbah Kampung menempati bagian utara jalan dan Mbah Nadi berada di sebelah selatan jalan. Kedua orang tersebut merupakan keturunan dari Kiai Patra. Dari keturunan Mbah Kampung mempunyai putra Zaini dan Siroj, sedangkan Mbah Nadi menurunkan Mbah Sarjo dan Rejo Dimulya dari anak turun tersebut yang sekarang menempati Padukuhan Klisat.
Iriyanto juga membenarkan asal-usul Padukuhan Klisat karena pernah mendengar cerita dari almar- hum Khusairi. “Saya pernah mendengar cerita dari Bapak Khusairi almarhum, memang benar seperti itu cerita terjadinya Padukuhan Klisat.” Ungkapnya. Bahkan Bapak Iriyanto pernah menuliskannya, tetapi tidak dibukukan.
Kondisi wilayah Padukuhan Klisat sekarang terbagi ke dalam 2 Rukun Warga ( RW ) dan 5 Rukun Tangga ( RT ), antara Patran dan Klisat tetap dipisahkan dengan sawah Kas Desa milik Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Godean. Di dekat yang dulunya ada mata air sampai sekarang apabila dibuat sumur akan menghasilkan sumber mata air yang cukup deras dan jernih.
Padukuhan Klisat benar-benar kali asat yang bukan lagi mejadi kubangan air. Walau di Padukuhan Klisat terdapat aliran sungai, tetapi hanya sungai kecil yang tidak mempunyai hulu. Sungai kecil yang mengalir hanyalah berasal dari kumpulan air dari sawah. Masyarakatnya hidup rukun yang tetap menjaga budaya gotong-royong.
Penulis : Sugiyanto
Tenaga Ahli : Suhindriyo